GITARIS UNTUK NEGERI

Tiba gitaris masing-masing Dewa Budjana, Eet Syahranie dan Stephan Santoso belakangan ini tengah menjadi pusat perhatian setelah berhasil menghimpun sebanyak 128 gitaris dari berbagai dalam satu lagu instrumental berjudul “Genjreng”. Karya berdurasi lebih dari 9 menit ini merupakan upaya penggalangan dana bagi sasama gitaris yang didukung penuh oleh kemenparekraf.

Gitaris dalam jumpah spetakular ini bermula dari ide sepele. Suatu ketika Eet Syahranie bertemu dengan Stphan dalam mixing single Edane, “Si Bangsat”. Pemilik Slingshot Studio tersebut memiliki sebuah gitar dengan brand sama yang dimiliki Eet. Secara iseng lantas video jamming yang kemudian mereka up load di kanal youtube. Keisengan ini mendorong Stephan untuk membuat lagu lain yang dapat melibatkan lebih banyak lagi gitaris.

Idenya berkembang setelah ia berhasil mengajak Dewa Budjana. Menurut Eet Syahranie, part yang disiapkan oleh Budjana lebih memberi ruang masuknya genre lain ketimbang part yang disiapkan olehnya.

Respons pun berdatangan. Dan, setelah dikebut selama dua bulan, terkumpul 128 ragam gitaris yang ikut berpartisipasi. Untuk menyebut sebagian di antaranya ada Bengbeng Pas, Oele Pattisellano, John Paul Ivan, Boris Simanjuntak, Coki Bollemeyer, Endah Widiastuti, Didit Saad dan banyak lagi. Durasi yang semula hanya 5 menit berubah menjadi 9 menit lebih. Untuk memudahkan pengerjaan di studio, sebanyak sepuluh gitaris bekerjasama mengurai per-section lagu. Mereka Eddy Kemput, Gerald Situmorang, Denny Chasmala, Andre Dinuth, Rama Akbar, Budi Rahardjo, Vega Antares, Kongko dan Nissan Fortz.  Ada pun gitaris senior Donny Suhendra turun tangan menggarap logo.

“Mungkin ini pertama kalinya terjadi,” kata Budjana sambil memperlihatkan video clip lagu berjudul “Genjreng” yang digarap oleh Chris Tarigan itu.  

Logo Gitaris Untuk Negeri – Donny Suhendra

Kekompakan sangat terasa bukan hanya di antara gitaris.  Setelah rampung proses mixing diselesaikan oleh Stephan Santoso, giliran Ridho Hafiedz dan Oppie andaresta yang bergerak mencari kanal agar proyek ini tersosialisasikan dengan maksimal.  Hasilnya, Kompas TV menayangkan hari Sabtu 31 Oktober 2020, pukul 20.00 – 21.00 WIB.  Pada akhirnya cuma para gitaris yang bergabung, tetapi juga para vokalis. Ada Tantri Kotak, Ipang Lazuardi, Once Mekel, Dira Sugandi, Iwa K,  Andy/rif, dan Tissa Bisani. Dari musisi etnik terlihat Jalu Paramadita, Nek Daniang, Saat Borneo dan Ganzerlana.

Menurut Budjana, hasil penayangan “Genjrengan” kelak akan didistribusikan 9 menit kepada para gitaris yang mata pencahariannya terputus karena badai corona.  Gerakan simpatik ini bolehlah jika diikuti para instrumentalis lain.  Empati mestinya semakin lebar ketika lahan rejeki semakin sempit, sudah waktunya harmoni dimaknai dalam perspektif yang lebih luas. Unsur ini harus hadir dalam kehidupan. (Denny MR)   

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *